Minggu, 11 Mei 2014

Lisa's Journal: Mysterious Housekeeper (File 2)


Mine tell a story: Bagai dalam novel Muslihat dengan Cermin oleh Agatha Christie, Lisa berkunjung ke sebuah rumah dimana kawan lamanya tinggal dan mencoba menyelidiki seorang pembantu rumah tangga yang misterius itu. 


“Kamar kalian, selalu terang begini ya?” Lisa menunjuk lampu yang menyala terang itu.

“Iyalah.” Jawab Novi tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang dibacanya. Salah satu karya V. Lestari yang dulu sering diputar Film Televisi-nya di stasiun TV Swasta - yang bercerita tentang salah seorang gadis kembar yang tinggal bersama ayahnya yang telah membunuh pembantu rumah tangga dan menyimpan mayatnya di kamar rahasia bawah tanah. Jenis film yang begitu digemari Lisa.

“Kalo tidur?”

“Ya dimatikan?” kali ini Syifa yang menjawab.

Lisa membuka sedikit tirai jendela dan mengintip ke arah rumah Mang Deden.  “Apa dia biasa matiin lampu terasnya ya?”

Syifa angkat bahu. “Nggak selalu. Cuma sesekali gitu.”

“Ooh..”

Lisa membuka pintu kamar.

“Mau kemana?” tanya Syifa.

“Mau ngecek sesuatu.”

Syifa yang penasaran ikut keluar. “Hei, Lisa!”

Lisa tak menjawab. Ia berjalan ke arah rumah Mang Deden yang terasnya gelap.

“Lisa!” Syifa memanggil-manggil dengan separo kesal.

Lisa memandang ke arah jendela kamar Syifa dan Novi. Walau jendela itu tertutup tirai hijau, tapi cukup terlihat bahwa lampu menyala terang.

“Lisa!” panggil Syifa dengan gusar.

Lisa lalu berbalik memandang jendela gelap rumah Mang Deden. Ia menundukkan kepalanya sambil berpikir, lalu tak lama kemudian mengetuk-ngetuk pintu rumah itu. Syifa mengerang melihat tindakan kawan lamanya itu dan menarik lengan Lisa.

“Mang,” panggil Lisa dengan sedikit keras. “Mang Deden,”

“Lisa, mau ngapain?” kali ini Syifa sudah habis sabar.

Mengabaikan pertanyaan Syifa, Lisa tetap menggedor pintu rumah Mang Deden. Syifa lalu menarik tangan Lisa untuk menghentikan gadis itu.  Namun, pintu berayun terbuka ke belakang dan Mang Deden muncul dari dalam rumah yang lampunya bersinar terang.

“Ada apa ya, Neng?”

“Begini Mang, lampu kamar mandi mati, dari tadi saya coba nyalakan saklar, tapi nggak nyala. Bisa tolong diperbaiki? Teman saya dari tadi mau ke sini nggak jadi.  Takut mengganggu Mang Deden katanya.”

Mang Deden langsung memandang Syifa yang diduga adalah teman - yang  tidak berani mengganggu – yang dibicarakan Lisa. “Nggak apa-apa Neng, selama Neng sekalian membutuhkan bantuan saya, Insya Allah saya akan membantu Neng untuk urusan kos-kosan.”

“Tuh kan, apa kataku juga.” Tambah Lisa.

“Sebentar ya Neng, saya ambil senter dulu.”

Mang Dedeng masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Lisa memutar bola matanya karena tak sempat melihat isi rumah pria itu.  Sambil menarik lengan Syifa, ia berjalan kembali ke kamar mereka.

“Kamu ngapain sih? Kenapa pake ngebohong segala soal lampu kamar mandi?”

“Aku nggak bohong kok.”

“Eh?”

“Lampu kamar mandi betul-betul nggak bisa dinyalakan.”

“Masa? Perasaan tadi waktu aku pake kamar mandi, lampunya masih nyala kok.”

“Jelas masih nyala, lampunya belum aku apa-apain.” Bisik Lisa.

Syifa memandang heran Lisa yang terkikik pelan.

Mysterious Housekeeper

Mang Deden memutar lampu itu dan memandang Lisa. “Kayaknya saya waktu masangnya kelonggaran deh. Maaf ya, Neng.”

“Nggak apa-apa Mang. Maaf kalau menganggu.”

“Iya Neng, sama-sama.”

“Oya Mang, kok lampu teras rumah Mang Deden mati? Apa nggak sebaiknya dibetulkan kalo lampunya sudah rusak?” kata Lisa, yang sukses membuat mata Syifa melotot mendengarnya. Gadis itu ingin menginjak kaki Lisa, tapi mengurungkan niatnya begitu Mang Deden sudah akan keluar dari kamar mandi.

“Oh lampunya baik-baik saja kok Neng. Saya sengaja matikan soalnya banyak siraru (laron).”

“Oh...” Lisa nyaris tertawa mendengar alasan itu.

“Saya permisi dulu.” Pamitnya.

“Oh, ya. Makasih Mang.”

Setelah Mang Deden menutup pintu keluar dan suara langkah kakinya yang menjauh terdengar, Lisa menyiku Syifa sambil mengangkat alis.  Syifa memasang wajah cemberut sambil menarik Lisa kembali ke kamar.

“Nekat.” Katanya.

“Kalo nggak gitu misteri kenapa dia matiin lampu malam hari nggak akan terpecahkan.”

“Yang gitu misteri?”

“Kan bikin kamu penasaran.”

Syifa menggeleng. “Kalo masalah minyak?”

“Itu perlu juga?”

Syifa terdiam sambil memandang Lisa penuh arti. “Terserah.”

“Paling kamu juga kalo udah tau ceritanya bakal bilang, ‘Oooh...’”

“Emang kamu udah tau?”

Lisa menggeleng. “Belum. Besok aku bakal coba ngecek.”

Lalu beberapa laron bertebangan dan hinggap di lampu lorong yang redup, menambah suasana suram lorong kos-kosan itu.



To be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar