Mine tell a story: Bagai dalam novel Muslihat dengan Cermin oleh Agatha Christie, Lisa berkunjung ke sebuah rumah dimana kawan lamanya tinggal dan mencoba menyelidiki seorang pembantu rumah tangga yang misterius itu.
“Kamar kalian,
selalu terang begini ya?” Lisa menunjuk lampu yang menyala terang itu.
“Iyalah.” Jawab Novi
tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang dibacanya. Salah satu karya V.
Lestari yang dulu sering diputar Film Televisi-nya di stasiun TV Swasta - yang
bercerita tentang salah seorang gadis kembar yang tinggal bersama ayahnya yang
telah membunuh pembantu rumah tangga dan menyimpan mayatnya di kamar rahasia
bawah tanah. Jenis film yang begitu digemari Lisa.
“Kalo tidur?”
“Ya dimatikan?” kali
ini Syifa yang menjawab.
Lisa membuka sedikit
tirai jendela dan mengintip ke arah rumah Mang Deden. “Apa dia biasa matiin lampu terasnya ya?”
Syifa angkat bahu.
“Nggak selalu. Cuma sesekali gitu.”
“Ooh..”
Lisa membuka pintu
kamar.
“Mau kemana?” tanya
Syifa.
“Mau ngecek
sesuatu.”
Syifa yang penasaran
ikut keluar. “Hei, Lisa!”
Lisa tak menjawab.
Ia berjalan ke arah rumah Mang Deden yang terasnya gelap.
“Lisa!” Syifa
memanggil-manggil dengan separo kesal.
Lisa memandang ke
arah jendela kamar Syifa dan Novi. Walau jendela itu tertutup tirai hijau, tapi
cukup terlihat bahwa lampu menyala terang.
“Lisa!” panggil
Syifa dengan gusar.
Lisa lalu berbalik
memandang jendela gelap rumah Mang Deden. Ia menundukkan kepalanya sambil
berpikir, lalu tak lama kemudian mengetuk-ngetuk pintu rumah itu. Syifa
mengerang melihat tindakan kawan lamanya itu dan menarik lengan Lisa.
“Mang,” panggil Lisa
dengan sedikit keras. “Mang Deden,”
“Lisa, mau ngapain?”
kali ini Syifa sudah habis sabar.
Mengabaikan
pertanyaan Syifa, Lisa tetap menggedor pintu rumah Mang Deden. Syifa lalu
menarik tangan Lisa untuk menghentikan gadis itu. Namun, pintu berayun terbuka ke belakang dan Mang
Deden muncul dari dalam rumah yang lampunya bersinar terang.
“Ada apa ya, Neng?”
“Begini Mang, lampu
kamar mandi mati, dari tadi saya coba nyalakan saklar, tapi nggak nyala. Bisa
tolong diperbaiki? Teman saya dari tadi mau ke sini nggak jadi. Takut mengganggu Mang Deden katanya.”
Mang Deden langsung
memandang Syifa yang diduga adalah teman - yang tidak berani mengganggu – yang dibicarakan
Lisa. “Nggak apa-apa Neng, selama Neng sekalian membutuhkan bantuan saya, Insya Allah saya akan membantu Neng
untuk urusan kos-kosan.”
“Tuh kan, apa kataku
juga.” Tambah Lisa.
“Sebentar ya Neng,
saya ambil senter dulu.”
Mang Dedeng masuk ke
dalam rumah dan menutup pintunya. Lisa memutar bola matanya karena tak sempat
melihat isi rumah pria itu. Sambil
menarik lengan Syifa, ia berjalan kembali ke kamar mereka.
“Kamu ngapain sih?
Kenapa pake ngebohong segala soal lampu kamar mandi?”
“Aku nggak bohong
kok.”
“Eh?”
“Lampu kamar mandi
betul-betul nggak bisa dinyalakan.”
“Masa? Perasaan tadi
waktu aku pake kamar mandi, lampunya masih nyala kok.”
“Jelas masih nyala,
lampunya belum aku apa-apain.” Bisik Lisa.
Syifa memandang heran
Lisa yang terkikik pelan.
Mysterious Housekeeper
Mang Deden memutar
lampu itu dan memandang Lisa. “Kayaknya saya waktu masangnya kelonggaran deh.
Maaf ya, Neng.”
“Nggak apa-apa Mang.
Maaf kalau menganggu.”
“Iya Neng,
sama-sama.”
“Oya Mang, kok lampu
teras rumah Mang Deden mati? Apa nggak sebaiknya dibetulkan kalo lampunya sudah
rusak?” kata Lisa, yang sukses membuat mata Syifa melotot mendengarnya. Gadis itu
ingin menginjak kaki Lisa, tapi mengurungkan niatnya begitu Mang Deden sudah
akan keluar dari kamar mandi.
“Oh lampunya
baik-baik saja kok Neng. Saya sengaja matikan soalnya banyak siraru (laron).”
“Oh...” Lisa nyaris
tertawa mendengar alasan itu.
“Saya permisi dulu.”
Pamitnya.
“Oh, ya. Makasih
Mang.”
Setelah Mang Deden
menutup pintu keluar dan suara langkah kakinya yang menjauh terdengar, Lisa
menyiku Syifa sambil mengangkat alis. Syifa
memasang wajah cemberut sambil menarik Lisa kembali ke kamar.
“Nekat.” Katanya.
“Kalo nggak gitu
misteri kenapa dia matiin lampu malam hari nggak akan terpecahkan.”
“Yang gitu misteri?”
“Kan bikin kamu penasaran.”
Syifa menggeleng. “Kalo
masalah minyak?”
“Itu perlu juga?”
Syifa terdiam sambil
memandang Lisa penuh arti. “Terserah.”
“Paling kamu juga
kalo udah tau ceritanya bakal bilang, ‘Oooh...’”
“Emang kamu udah
tau?”
Lisa menggeleng. “Belum.
Besok aku bakal coba ngecek.”
Lalu beberapa laron
bertebangan dan hinggap di lampu lorong yang redup, menambah suasana suram
lorong kos-kosan itu.
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar