Mine tell a story: Bagai dalam novel Muslihat dengan Cermin oleh Agatha Christie, Lisa berkunjung ke sebuah rumah dimana kawan lamanya tinggal dan mencoba menyelidiki seorang pembantu rumah tangga yang misterius itu.
Lisa menatap rumah
dengan banyak jendela itu dengan pandangan menilai. Dalam hati ia memberi nilai
delapan untuk rumah yang diduga memiliki sedikit misteri yang belum terpecahkan
itu. Sebuah rumah dengan beberapa kamar yang disewa oleh pegawai wanita atau
mahasiswi.
“Maaf, cari siapa
Neng?” sapa seorang pria berumur tiga puluhan awal.
“Oh, saya cari teman
saya yang bernama Syifa. Saya dengar dia tinggal di sini.”
“Oh, eneng cari neng Syifa yang dari Dayeuh Kolot bukan?”
Lisa mengernyit untuk mengingat-ngingat.
“Lisa,” suara riang seorang gadis membuat Lisa menoleh dan tersenyum.
Lisa merentangkan tangannya begitu ia disambut kawan lamanya itu dengan pelukan hangat.
“Ya ampun! Kamu masih aja tomboy begitu.” Katanya sambil memegang lengan Lisa yang berlapis jaket blue jeans belel.
Lisa tertawa. “Kostum bepergian ya beginilah.”
“Ya udah, kita ke kamarku yuk!” ajak Syifa masih menahan rasa senangnya itu.
Lisa mengangguk lalu berpaling ke arah pria tadi. “Terima kasih, Mas.”
“Iya, sama-sama neng.” Katanya sambil cepat-cepat berlalu.
Syifa cepat-cepat menariknya masuk ke dalam rumah. “Yang lama tinggal di Jogja,” sindirnya. “sekarang udah nggak pake ‘Aa’ lagi, tapi pake ‘Mas’.”
Lisa terkekeh. “Yah, abisnya... keseringan ketemu ‘Mas-mas’ sih.”
Syifa ikut tertawa. “Gimana? Udah ada ‘Mas-mas’ yang kegaet?”
“Apaan sih?” gerutu Lisa separo menahan tawa.
“Yang tadi itu siapa?” bisik Lisa.
“Mang Deden.”
“Ooh...”
Syifa lalu mendorong pintu belakang yang dan mendahului Lisa menelusuri koridor kamar-kamar itu. Lisa memperhatikan atap yang putih dan terlihat bersih tanpa sarang laba-laba, ia menebak bahwa Mang Deden-lah yang rajin membersihkan itu.
“Bersih juga.” Komentar Lisa begitu pandangannya beralih pada lantai berubin putih tanpa debu ataupun pasir.
“Kerjaan Mang Deden.”
Syifa mengangguk.
“Novi kemana?”
“Lagi pergi sama pacarnya.”
Lisa mendengus menahan tawa. “Akhirnya dia punya pacar juga. Gimana sama yang ‘kutunggu duda-mu’ itu?” tanyanya begitu mengingat seseorang yang disukai Novi semasa mereka SMA.
“Hush! Udah ke laut itu mah.” Balasnya sambil cekikikan. “Nah, ini kamarku sama Novi.”
Lisa melepaskan sepatunya sambil melongokkan kepalanya ke dalam kamar. “Lumayan.”
“Kamar mandi sama dapur ada di situ. Tadi kita ngelewatinnya.”
Lisa mengangguk lalu masuk ke dalam kamar yang sejuk itu dan memandang ke luar jendela. “Itu rumah kecil tempat tinggal Mang Deden?”
Syifa bergerak ke arah jendela dan ikut memandang rumah yang ditunjuk Lisa. Rumah itu hampir tertutup oleh pakaian yang dijemur di luar. “Iya.”
“Bisa ceritain lagi apa yang kamu tulis di e-mail?”
“Yah, seperti yang aku tulis di e-mail.” Katanya sambil memandang ke arah rumah itu. “Kami. Aku dan Novi ngerasa nggak nyaman dan mulai curiga sama dia, begitu dia membetulkan lampu kamar ini. Dia masuk kamar ini ketika kami lagi nggak ada di sini.”
“Terus?”
“Kami juga curiga sama dia, karena suatu pagi kami melihat dia menjemur pakaian wanita di luar. Padahal, setahu kami dia nggak tinggal sama siapa pun. Pernah juga waktu malam sekitar jam sebelas, kami melihat lampu teras rumahnya mati, dan besoknya begitu jam lima aku bangun lampu terasnya sudah kembali dinyalakan. Aneh bukan?”
Lisa angkat bahu. “Ada yang lain?”
“Selain itu, kami masih heran sama tempat minyak kami yang tiba-tiba menghilang.”
“Tempat minyak?”
Syifa bergegas ke dekat pintu dan mengambil sebotol cairan berwarna kuning keemasan dan menunjukkannya pada Lisa. “Kami pake botol air yang nggak kepake lagi. Sejak botol itu menghilang, kami selalu membawanya kembali ke kamar.”
“Dulu kalian menaruh botol minyak dimana?”
“Dapur. Tempat umum.” Jawabnya sambil kembali meletakkan botol minyak itu ke sudut dekat pintu. “Tapi, di dapur ada lemari antik yang lumayan bikin merinding.”
“Merinding?” ulang Lisa. Mendengar kata itu, seketika Lisa bergidik begitu membayangkan kecoak yang merayap di dinding lemari. Salah satu hewan kecil yang selalu membuat Lisa tak suka dengan gudang dan barang-barang yang tak terpakai.
“Iya. Banyak ukirannya.” Jelas Syifa. “Waktu itu aku sama Novi mau masak. Karena botol minyak goreng kami yang biasa ditaruh di atas meja kompor nggak ada, kami jadi mengintip lemari itu. Dan di situ ternyata ada botol minyak yang masih penuh, berdebu dan banyak sarang laba-laba, tapi masih utuh dan jelas sekali itu bukan botol minyak milik kami. Entah kenapa kami tiba-tiba merinding dan cepat-cepat menutup pintu lemari.”
“Lalu?”
“Hah?”
“Jadi acara masaknya?”
“Nggak. Udah nggak laper lagi.”
Lisa tertawa pelan. “Siapa aja yang tinggal di sini?”
“Di sini ada enam kamar, Cuma dua kamar di isi dengan dengan dua orang. Salah satunya aku dan Novi. Terus ada di paling ujung dekat ruang tamu, ada dua mahasiswi. Di seberangnya ada kamar supervisor di pabrik depan tempat kerja kami. Di seberang kamar kami juga ada mahasiswi dari Semarang. Dua kamar lagi itu kerja di pabrik yang sama dengan kami, tapi mereka bagian QC(Quality Control).”
Lisa menganggukkan kepalanya berulang kali sambil mengintip melalui celah pintu. “Jadi, Mang Deden punya kunci duplikat semua kamar di sini?”
“Kayaknya begitu, yah kamu tahu sendirikan? Dia tiba-tiba bilang begini waktu kami pulang kerja, ‘Lampu kamar sudah dibetulkan, kalo mati lagi bilang aja ya!’. Gimana kami nggak takut coba?”
“Kejadiannya kapan itu?”
“Sekitar dua minggu yang lalu.”
“Belum lama berarti.”
Syifa mengangguk.
Lisa menghela napas. “Oke, ngomong-ngomong apa nggak apa-apa nih aku menginap di sini selama beberapa hari?”
“Nggak apa-apa kok. Kecuali kamu cowok, jelas lah nggak boleh.”
Lisa memutar bola mata bosan. “Kalo di kos temanku ada yang nggak boleh.”
“Lho? Kenapa?”
“Uang air, listrik dan sewa kamar udah sekalian dihitung. Jadi, nggak boleh ada yang menginap. Itu dulu sih. Tapi, setelah harga sewa dinaikkan ya teman-temanku bebas ngajak teman mereka untuk menginap.”
“Oh. Mau mandi?”
Lisa mengangguk. Sambil mengeluarkan peralatan mandi dari ranselnya, ia lalu mengikuti Syifa yang sudah menunggunya di dekat dapur. Lisa segera tahu bahwa pintu di sebelah kiri dekat kamar pegawai QC itu adalah kamar mandi.
Lisa menoleh pada Syifa yang tengah menyalakan kompor. “Saklar lampunya mana?”
“Oh, it-hwaaaa~”
Syifa yang baru saja meletakkan gelas di atas meja kompor untuk membuat kopi, hampir terpeleset saat akan menghampiri Lisa. Tapi, untung saja ia dengan cepat berpegangan dengan meja kompor.
“Hati-hati,”
“Aku nggak tahu kenapa lantai yang di sini licin. Kemarin, Teh Lia aja sampai jatuh di sini.” Katanya sambil melewati Lisa dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyalakan saklar lampu.
Lisa yang tertarik menghampiri lantai itu dan mulai menggesekkannya dengan sandal karet yang dipinjamnya dari Syifa. Memang seperti yang di katakan Syifa, lantai itu agak licin. Tapi, mengapa hanya di situ?
“Tuh, kamu mandi gih.”
“Oh, thanks.”
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar